Perempuan dan ego laki-laki
Anisa, Seorang anak gadis remaja yang tinggal di sebuah desa terpencil di Arsa. Dia duduk di kelas dua kelas menengah. Ia berparas cantik dan bertubuh tinggi dengan model tubuh yang seksi. Seluruh tubuh dan badannya diselimuti dengan sehelai kain yang ia sedari kecil dipaksa orang tuanya untuk memakainya. Katanya, untuk melindungi martabat dan kewibawaan seorang perempuan.
Ia
menjalani kegiatan sehari-hari dengan semestinya, tidur, mengerjakan tugas, dan
belajar sebagai semestinya. Ia lalu berangkat ke sekolah yang masih di dalam
kota, yang ia sadari sekolah tempat ia bertemu guru dan teman-teman sebayannya.
Namun ada hal kecil yang luput dari pandangan dia, dengan paras yang cantik, ia
tidak sadar bahwa ketertarikan dari teman-teman sekolahnya mulai berpusat
kepanya.
Adi,
contohnya, teman sekelas yang paling nakal dan sering menggagu orang, juga
tertarik padanya. Di suatu ketika dia menjatuhkan bolpen di bawah meja Anisa.
Ya, tujuannya sama, mengganggu dia dan membuatnya tidak nyaman. Tidak hanya
itu, Adi juga sering bilang bahwa Nisa kalau tidak mengenakan kerudung ia pasti
kelihatan lebih cantik dan seksi.
Bukan Cuma
adi, Iman, anak sekolah paling sopan, yang diam-diam menyukai anisa cari lama.
namun beda dengan adi, ia lebih tidak agresif ketika mendekati anisa. Ia hanya
mencuri-curi waktu untuk hanya sekedar menegur atau menyapa Nisa.
Nisa pun
sadar dengan tingkah laku mereka yang sudah ketahuan lagaknya dari awal. Dan ia
sudah terbiasa dengan hal itu. Lambat laun, Iman yang tidak pernah menyerah
mendekatinya, mempunyai tempat di hati Nisa. Mereka berdua pun semakin dekat,
hari ke hari, bulan ke bulan, hingga mereka tidak pernah kelitahan tidak
berdua.
Suatu hari,
Iman mengatakan bahwa Nisa akan lebih cantik ketika dia melepas kerudungnya.
Hal tersebut mengganggu pikiran Nisa dari lama. apa ia dia akan secantik itu
ketika melepas kerudung. Ia pun berdiri di depan cermin kamarnya, seketika ia
merasa lebih cantik ketika melepas kerudung. Ia pun tampil dengan itu di hari
kemudian dan seterusnya. Ia juga tidak lupu dari pujian dari teman-teman
sekolahnya.
Singkat
cerita, Iman dan Nisa beranjak dewasa dan mereka berdua sudah duduk di jenjang
Universitas. Lalu Nisa menagih janji yang pernah Iman janjikan dulu,
Menikahinya. Iman, menghela napas dalam dan jawaban sama dari dulu, “Tunggu
dulu, belum saatnya”. Itu lah jawaban yang diterima Nisa sepanjang tahun
akhir-akhir ini.
Hingga,
suatu ketika ia mengetahui alasan sebenarnya dari Iman, setelah nisa memaksa
Iman untuk berkata Jujur dengan hubungan itu. Iman tidak akan menikahi seoroang
perempuan yang mengumbar-umbar tahta terindah dari seorang perempuan,
memperlihatkan kecantikan rambut dan tubuh seksinya ke banyak orang. Perkataan
Iman itu seakan petir yang menyambar hati Nisa. Bukankah ia dahulu yang
memintanya, lebih tepatnya yang ia sukai, bukannya orang sekeliling nya juga
menyukainya, selain orang tuanya.
Hal
tersebut terus menggagu pikiran Nisa. Apa ia seorang laki-laki pada zaman
sekarang tidak akan menikahi perempuan terbuka seperti dia? Bukankah itu norma
yang wajar?. Pertanyaan-pertanyaan itu terus ia bicarakan di dalam kepalanya.
Kemudian ia
sering menyendiri, kadang di kamar, atau di perpustakaan milik kampus. Sehingga
di suatu hari ia ketemu laki-laki paruh baya masuk ke perpustakan. Ia kenal
laki-laki itu, salah satu dosen di sana. Lalu ia memberanikan diri bertanya
kepadanya tentang keresahan yang ia alami. Panjang lebar menceritakan hal mulai
dari bagaimana ia dulu memutuskan untuk membuka kerudung, kemudian
berpenampilan seksi dengan baju-baju modern sekarang, hinggaa kegagalan
pernikahan yang ia minta dari Iman.
Sang dosen
pun menyimak dan melontarkan jawaban-jawaban yang memukul hatinya. Ia
menguraikan satu persatu dan asal muasal dari kegagalan dan kekecawan Nisa. Katanya,
Nisa dari awal sudah terjerumus pada KEEGOISAN dari sifat laki-laki. Bahwa yang
ia lakukan dari dulu adalah korban dari itu. Ketika dia mulai melepas kerudung,
ia melakukan hal tersebut karena merasa bahwa ketertarikan dari laki-laki
adalah ketika ia tampil cantik dengan memperlihatkan kecntikan wajah dan
tubuhnya kepada orang lain, dan ia mengira hal tersebut muncul dari sifat SUKA
dari orang lain.
Emang egois
dan suka mempunyai arti yang hampir sama, tapi ia beda. Suka bisa diartikan
bahwa ketika manusia ia seakan melihat dirinya sendiri di dalam diri orang
lain, sehingga apa yang dianggapnya baik atau buruk yang terjadi pada dirinya
sendiri, dia akan melakukannya untuk orang yang ia cintai dan tidak akan
melakukannya jika itu buruk untuknya. Itulah sifat cinta. Sedang egois, manusia
melihat orang lain untuk kepuasan dirinya sendiri, sehingga karena dia hanya
memikirkan hal tersebut, ia memaksa orang lain sesuai dengan keinginan dia
sendiri.
Itulah yang
dialami Nisa, ia merubah penampilan serta memperlihatkan kecantikannya ke orang
banyak disebabkan ia menuruti keinginan seorang laki-laki, bahkan lingkugannya,
lebih sederhanya keegoisan orang lain. Hal yang dia lakukan bukan tentang rasa
suka Iman, tapi tentang keegoisan Iman yang sedari awal menginginkan itu dari
Nisa, bukan untuk kebaikan Nisa, tapi untuk kepuasan Iman ketika melihat Nisa
seperti itu. Jika Iman benar-benar CINTA dan suka pada Nisa, dia tidak akan
mengatakan dan menyuruh nisa untuk melepas kerudungnya dulu, sebab hal tersebut
tidak disukai olehnya.
Konklusinya,
kadang, sifat ketidakbaikan dari seorang perempuan atau laki-laki itu bukan
berasal dari dirinya sendiri. Tetapi ia bisa jadi dipengaruhi faktor eksternal,
baik egois individu, sosial, atau norma-norma buruk di sekitar kita.
Johan
Liebert
Komentar
Posting Komentar